Selasa, 23 April 2013


MAKALAH
STILISTIKA SURAT AL-FATIHAH DARI ASPEK SINTAKSIS DAN LEKSIKAL
Dosen pengampu: Prof.Dr.H.Syihabuddin Qulyub


DISUSUN OLEH 
FITHROTUL MUTHI’AH (10110119)



Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2011

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah, karena dengan rahmat dan hidayah-ya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah dengan judul “stilistika surat al-fatihah. Makalah ini di tulis dalam rangka memenuhi tugas kuliah Imu Usub. Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada baginda kita, nabi Muhammad saw yang telah membawa kita dari zaman jahiliyyah menuju zaman keislaman ini.
Tiada gading yang tak retak, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan, kekeliruan dan masih jauh dari kata sempurna dalam menyusun makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran atas penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan tamnbahan ilmu pengetahuan kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.


Yoyakarta, Januari 2012

Hormat kami     

Penyusun           
                                                                         BAB I

PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Menurut Az-zarqoni stilistika atau dalam bahasa arab di kenal dengan kata al-uslub adalah cara pengungkapan yang ditempuh penutur kalimat dalam menyusun kalimat dan memilih kosa katanya.[1] Surat al-fatihah termasuk surat pokok dari al-qur'an, sampai-sampai di sebut dengan ummul kitab. Nah dalam setiap surat termasuk al-fatihah pasti mengandung aspek sintaksis yakni cabang linguistik yang mengkaji hubungan kata dengan kata lain dalam unit gramatik yang lebih besar. Dalam bahasa arab sintaksis lebih di kenal dengan sebutan nahwu. Mempelajari kaidah-kaidah nahwu dalam al-fatihah di rasa sangat penting, karena al-fatihah merupakan salah satu syarat sahnya sholat yang menjadi kewajiban bagi semua umat islam. Ketika kaidah-kaidah tersebut tidak sesuai maka dapat menimbulkan bacaan, makna maupun pemahaman yang berbeda serta mempunyai pengaruh yang cukup besar. Begitu pula dengan leksikalnya, pemilihan kata yang digunakan dalam surat al-fatihah juga mempunyai makna serta tujuan tersendiri.

B.     RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang akan kami sajikan dalam makalah ini berkaitan dengan:
1.    Bagaimana lafadz dari surat al-fatihah beserta ulasannya?
2.    Apakah yang di maksud dengan sintaksis ?
3.    Bagaimanakah aplikasi sintaksis dalam surat al-fatihah?
4.    Apakah yang di maksud dengan leksikal?
5.    Bagaimanakah aplikasi leksikal dalam surat al-fatihah?
                                                            
C.     TUJUAN PENULISAN
Penulisan makalah ini bertujuan agar kita mampu memahami al-fatihah secara mendalam dari aspek sintaksisnya dengan adanya berbagai macam penjelasan.

D.    DASAR TEORI [2]
Pembahasan terhadap uslub al-qur'an tidak mungkin bisa dilaksanakan tanpa berlandaskan pada ilmu nahwu dan cabang-cabangnya yakni : fonologi, analisis fonologi, shorof, frase(tarkib), kamus dengan bersandarkan pada semantik.
Jenis-jenis yang paling dasar di mana pembahasan uslub al-qur'an difokuskan padanya yang bertolak dari bentuk-bentuk nahwu yang merupakan landasan sebuah uslub. Lebih sempurnanya lagi, pertama dengan jalan menganalisis unsur-unsur nahwu pada ungkapan-ungkapan yang dipilih. Kedua, menjelaskannya dengan menggambarkannya untuk menunjukan maksud pengarang atau dengan makna yang lebih dalam dari apa yang tertulis.

BAB II
PEMBAHASAN


1.      Surat al-fatihah

١_ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
٢_ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
٣_ الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
٤_ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
٥_ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
٦_ اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
٧_صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  4. Yang menguasai Hari Pembalasan.
  5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
  6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
  7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Surah Al-Fatihah ini dikategorikan sebagai Surah Makkiyyah yaitu yg diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Nabi saw menamakan surat ini sebagai (فاتحة الكتاب) karena ia adalah merupakan surah yang mula-mula sekali dibaca dan sebagai permulaan  dalam Al-Quran. Selain itu, surah ini juga dinamakan (أم القرأن) karena ia merupakan induk bagi semua isi yang terkandung di dalam Al-Quran dan menjadi intisari kepada isi Al-Quran. Nama lain bagi surah ini adalah(السبع المثاني). Dinamakan sedemikian karena ia mengandungi tujuh ayat dan sentiasa di baca berulang kali ketika di dalam shalat. Surat fatihah juga mengandung 5 asma'ul husna (nama-nama Allah yang indah).

2.      Sintaksis

a.         Definisi sintaksis
Sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional disebut tata bahasa atau gramatika. Jadi sintaksis merupakan cabang linguistik yang mengkaji hubungan kata dengan kata lain dalam unit gramatik yang lebih besar. Secara garis besar sintaksis membahas tentang kata, frase, klausa, kalimat dan wacana.[3]

b.         Sintaksis dalam surat fatihah
            Gramatika (nahwu) dalam surat al-fatihah :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 
l  Bi, merupakah huruf jar, mabni, berfaidah lilisti’anah.
l  Ismi, majrur karena didahului oleh bi yang merupakan huruf jar, alamat jarnya menggunakan kasroh karena lafadz ismi adalah isim mufrod(tunggal). Lafadz ini termasuk lafadz yang ma'rifat, penyebab kema'rifatannya karena dia mudhof pada isim alam yakni lafadz Allah. Lafadz Ismi sebagai mudhaf.
l  Allahi, majrur karena mudhof ilaihi kepada kata ismi, i'rab dari mudhof ilaih selalu jar, alamat jarnya menggunakan kasroh karena lafadz allahi adalah isim mufrod mungshorif. Lafadz ini termasuk lafadz yang ma'rifat karena termasuk isim alam.
l  Ar-Rahmaani, i'rabnya jar karena dia sifat (na'at) dari kata Allahi, termasuk na'at haqiqi yakni na'at yang merofa'kan isim dhomir mustatir yang kembali kepada man'utnya. Alamat jarnya dengan kasrah karena termasuk isim mufrod mungshorif. Lafadz ini termasuk lafadz yang ma'rifat karena kemasukan alif lam ta’rif.
l  Ar-Rahiimi, i'rabnya jar karena dia sifat (na'at) dari kata Allahi, termasuk na'at haqiqi. Alamat jarnya dengan kasrah karena termasuk isim mufrod mungshorif. Lafadz ini termasuk lafadz yang ma'rifat karena kemasukan alif lam ta’rif.
l  Jumlah al-basmalah termasuk jumlah ibtida’iyyah atau isti’nafiyyah.
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
l  Alhamdu, marfu’ karena menjadi mubtada', alamat rofa'nya menggunakan dhomah karena termasuk isim mufrod. Lafadz alhamdu termasuk lafadz yang ma'rifat karena kemasukan alif lam.
l  Lillahi, bentuk jar-majrur, terdiri dari kata li dan allahi, menempati posisi marfu’ karena sebagai khobar dari mubtada' alhamdu, termasuk khobar syibhu jumlah berupa jar majrur.
l  Rabbi, majrur karena dia menjadi badal dari kata Allahi, alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrod, termasuk badal muthobik (kul min kul) yakni badal yang menyamai mubdal minhunya dalam artinya. Lafadz rabbi juga bisa menjadi na'at haqiqi dari kata Allahi.
l  Al-’Aalamiina, majrur karena dia mudhof ilaihi kepada kata rabbi, alamat jarnya menggunakan huruf ya karena termasuk isim yang serupa dengan jama' mudzakar salim.
l  Jumlah al-hamdu merupakan jumlah ibtida’iyyah.
الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
l  Ar-Rahmaani, majrur karena dia sifat (na'at) haqiqi dari kata Allahi, alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
l  Ar-Rahiimi, marjur karena dia sifat (na'at) haqiqi dari kata Allahi, alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
l  Maaliki, majrur karena dia badal dari kata Allah pada ayat alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiina, alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif. Lafadz ini tidak bias menjadi sifat karena termasuk lafadz nakirah yakni berupa isim fail, ketika berzaman hal atau istiqbal maka bukan ma’rifat sebab idhafah, karena tidak ada nakirah sifat lil ma’rifah.
l  Yaumi, majrur karena dia mudhof ilaihi kepada kata Maaliki, alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
l  Ad-Dini, majrur karena dia mudhof ilaihi kepada kata Yaumi, alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
l  Iyyaka, menempati posisi manshub karena dia maf’ul, bentuk iyyaka merupakan isim dhamir nashab munfashil, termasuk isim mabni. Asal posisi maf’ul adalah setelah fiil dan fa’ilnya, disini ditempatkan diawal untuk pengkhususan sehingga maknanya adalah hanya kepada-Mulah
l  Na’budu, merupakan fiil mudhari yang didalamnya terdapat fa’ilnya yakni nahnu, fiil mudhari marfu' karena tidak kemasukan amil nashab dan amil jazam.
l  wa, huruf ‘athof berfaedah mutlaq al-jam’i.
l  iyyaka, sudah dijelaskan sebelumnya
l  Nasta’iinu, merupakan fiil mudhari yang didalamnya terdapat fa’ilnya yakni nahnu, fiil mudhari marfu' karena tidak kemasukan amil nashab dan amil jazam, fiil ini mengikuti wazan istaf'ala-yastaf'ilu yang berfaidah isti’anah.
اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
l  Ihdi, fiil amr bermakna do’a yang didalamnya terdapat fa’il mustatirnya yakni anta.
l  naa, isim dhomir muttasil mabni, menempati posisi manshub karena dia sebagai maf’ul bih pertama ihdi.
l  Ash-Shiraatha, manshub karena dia sebagai maf’ul kedua ihdi, alamat nashabnya menggunakan fathah karena termasuk isim mufrad mungshorif. Lafadz ini juga bias nashab sebab naza’ al-khafidz.
l  Al-Mustaqiima, manshub karena dia sifat (na'at) haqiqi dari kata Ash-Shiraatha.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
l  Shiraatha, manshub karena dia badal muthobik (kul min kul) dari kata shiratal mustaqiima
l  Alladziina, menempati posisi majrur karena dia mudhof ilaihi kepada shiraatha, alladzina merupakan isim maushul, termasuk isim yang mabni
l  An’amta, terdiri dari dua kata yakni an'ama yang merupakan fi’il madhi dan isim dhomir ta yang kembali pada Allah yang menjadi failnya, termasuk isim dhamir muttasil mabni fathah mahal rofa sebab jadi fail.
l  ‘alaihim, bentuk jar-majrur dari huruf jar ala dan isim dhomir hum, berhubungan dengan fi’il madhi an’amta
l  ghairi, majrur karena dia badal atau sifat dari alladziina, jatuh setelah kalam naqis, ghairi termasuk salah satu perangkat istisna yang mana mustasna dengan lafadz ghairu itu i'rabnya jar.
l  al-maghdlubi, majrur karena dia mudhof ilaihi (mustasna dari ghairu), alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
l  ‘alaihim, bentuk jar-majrur dari huruf jar ala dan isim dhamir hum menempati posisi marfu’ karena dia sebagai naibul fa’il dari isim maf’ul al-maghdluubi.
l  wa, huruf ‘ataf berfaidah mutlaq al-jam’i.
l  la, huruf nafi.
l  adl-dlooliina, majrur karena dia athof kepada al-maghdlubi, alamat jarnya menggunakan ya karena isim jama mudzakar salim.


3.      Leksikal

a.         Definisi leksikal
Leksikal(al-mustawa al-mu'jami) adalah pemaknaan yang sesuai dengan makna yang ada dalam kamus. Seperti contoh ro'sun itu makana leksikal atau makna dalam kamusnya adalah bagian tubuh atau anggota badan yang paling atas atau paling depan.[4]

b.         Leksikal dalam surat al-fatihah[5]
Dalam Surah Al-Fatihah ini sebenarnya Allah s.w.t. menyebutkan kepada kita 5 Asma al-Husna ( nama-nama Allah yg indah ). Dari 99 Asma al-Husna, 5 daripadanya Allah s.w.t. memilih dan menyebutnya di dalam surah ini yaitu :
1)      Allah ( الله )

2)      Ar-Rabb ( الرب )

3)      Ar-Rahman ( الرحمن )

4)      Ar-Rahim ( الرحيم )

5)      Al-Malik ( المالك )

Pembahasannya sebagai berikut:
1)      Allah ( الله )
Merupakan nama Allah Azza Wa Jalla Yang Maha Agung dan tiada sesuatu pun yg boleh menyekutukanNya. Di antara maksud nama Allah ini ialah sesungguhnya hati-hati seseorang yang sedang beribadah rindu kepada Allah, rindu untuk bertemu denganNya, melihatNya dan menjadi tenang bila menyebutNya yaitu berzikir mengingat Allah.
Selain itu nama Allah juga bermaksud bahwa sesungguhnya Dia          ( Allah ) satu-satunya tuhan yg layak untuk di sembah dan berhak untuk beribadah kepadaNya dan oleh karena itu jugalah nama ini digunakan dalam ungkapan dua kalimah syahadah di mana seorang mukmin itu akan berkata  ( أشهد أن لا اله إلا الله ) dan tidak berkata seperti ini
( أشهد أن لا اله إلا الرحمن ).

2)      Ar-Rabb ( الرب )
Yaitu Dialah ( Allah ) tuhan sekalian alam. Semua yg diciptakan Allah terdiri dari berbagai jenis dan bentuk seperti alam manusia,alam hewan,alam tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Allah swt  adalah pencipta semua yang ada di langit dan di bumi ini.

3)      Ar-Rahman & Ar-Rahim ( الرحمن الرحيم )
Merupakan nama Allah yang tidak diberikan kepada siapa pun melainkan hanya kepada Allah saja, bahwasanya Allah swt mempunyai sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sifat Ar-Rahman Allah ini adalah rahmat kasih sayang untuk semua makhlukNya baik di dunia maupun di akhirat sedangkan Ar-Rahim adalah nikmat rahmat kasih sayang yang hanya khusus untuk orang-orang yang beriman saja besok di akhirat. Kita membaca surah Al-Fatihah ini berulang-ulang kali baik dalam shalat atau selainnya, kita akan menyebut ( بسم الله الرحمن الرحيم ) dan tidak menyebut
( بسم الله العزيز الحكيم ) ataupun asma'ul husna yang lainnya. Hal ini juga menunjukkan kata-kata Allah swt di dalam satu hadis Qudsi yaitu “ Sesungguhnya rahmat kasih sayang-Ku mendahului kemurkaan-Ku ” dan nabi saw senantiasa kan hal ini kepada para sahabat dengan senantiasa berharap bertambah keyakinan terhadap rahmat kasih sayang Allah yang besar .
Ketiga asma al-husna ini jika diperhatikan secara terperinci sebenarnya ia sudah merangkumi aspek-aspek akidah keimanan kita kepada Allah swt. Pertama nama Allah ( الله ) mengandung sifat Uluhiyyah dan kedua Ar-Rabb ( الرب ) mengandung sifat Rububiyyah dan yg terakhir Ar-Rahman & Ar-Rahim mengandung sifat Asma wa sifat bagi Allah.

4)      Al-Malik ( المالك )
Seperti yg terkandung di dalam surah Al-Fatihah yaitu
( ملك يوم الدين ) yang artinya “yang menguasai hari pembalasan” di mana pada hari itu di tangan-tangan manusia terdapat segala amalan-amalan mereka dan pada hari itu juga terdengar pujian kepada Allah dan mengagungkan kebesaran Allah. Pada hari itu jugalah terdapat peringatan kepada umat Islam dengan hari pembalasan dan hari penghitungan ( Hisab ).


Selain asmaul husna, kata dalam ayat QS Al-Fatihah akan kami bahas sebagai berikut:

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam”

Alhamdu ( الحمد ) adalah pujian karena perbuatan yg baik dan mulia. Pujian ini adalah pujian bagi Allah swt dengan sifat keagungan dan kesempurnaanNya. Segala pujian serta sifat-sifat yang tinggi dan kesempurnaan hanyalah milik Allah swt saja dan tidak ada yang berhak menerima pujian yang sempurna melainkan Allah saja. Jika kita mengkaji dari konteks bahasa sendiri kenapa digunakan alhamdu dalam ayat ini dan tidak digunakan ( الشكر ) dan apakah perbedaan antara ( الحمد ) ,( الشكر ) dan ( المدح ) ?Kenapa Allah tidak memulai ayat ini dengan            ( الشكر لله رب العلمين ) atau ( المدح لله رب العلمين )?
Sebenarnya ketiga perkataan bahasa arab ini mempunyai perbedaan makna dan maksud  tersendiri. Dari segi makna luar sama tetapi hakikatnya terdapat perbedaan antara ketiga perkataan ini :
1)      الحمد
Alhamdu dari segi bahasa bermaksud pujian terhadap sesuatu perbuatan, sifat atau tindakan yang dilakukan dengan kehendak dan keinginannya sendiri. Lafadz ini menggunakan bentuk isim karena isim itu bermakna lissubut (tidak ada perubahan) ketika menggunakan bentuk fiil itu bisa berubah-ubah. Pujian di sini juga hanya tertuju bagi Allah.
2)      المدح
Almadhu juga adalah bermaksud pujian akan tetapi ia adalah pujian yang berbentuk umum atas sesuatu perbuatan atau tingkah laku yang dilakukan. Perbedaan antara kedua perkataan ini ialah الحمد adalah khusus dan المدح adalah umum.
3)      الشكر
        As-syukru mempunyai maksud yang lebih khusus lagi dari الحمد dan المدح karena perkataan as-syukru ini sebenarnya lebih kepada pujian terhadap suatu nikmat tertentu saja yakni nikmat khusus. Ia terbatas kepada suatu kenikmatan yang melimpah dari pemberinya.
        Sebenarnya alhamdu disini mengandungi maksud ( الشكر والإعتراف ) yaitu pujian dan pengi'tirafan yang cukup indah yang dikhususkan hanya kepada Allah saja di mana ketika dilihat bagaimana surah Al-Fatihah ini diawali dengan suatu pujian. Pengi'tirafan yang dimaksudkan di sini ialah keagungan dan kebesaran Allah swt karena itu adalah satu pengakuan dari hamba-hamba-Nya sendiri dengan segala keluputan, kekurangan diri mereka dan merasa perlu kepada Allah swt. Dan hamba-hamba-Nya mengi'tiraf Allah dengan mengagungi segala sifat kesempurnaan, kemuliaan dan ihsan kebaikan Allah swt .
Perkataan “ Rabbil A’lamin ” yang bermaksud Tuhan sekalian alam bermakna bahwa sifat Allah merupakan jawaban dari persoalan kenapa Allah saja yang berhak dan layak untuk dipuji. Dan perkataan “ Rabb ” di sini bermakna pemilik atau yang memiliki sesuatu dan perkataan ini tidak boleh digunakan pada makhluk-Nya. Jika digunakan pada manusia, kata ini akan disandarkan kepada sesuatu atau lebih di istilahkan sebagai                   ( الإضافة )sebagai contoh : رب البيت yang bermaksud tuan rumah atau pemilik rumah.Contoh lain lagi : ربة البيت yang bermaksud suri rumah.
“ Al-a’lamin ” pada ayat ini meggunakan bentuk jamak muzakkar salim untuk menunjukkan sesuatu yang berakal. Lafadz ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah adalah tuhan sekalian alam seperti alam manusia,malaikat,jin,tumbuh-tumbuhan,hewan dan lain-lain sebagainya.


إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkau kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”.

Ayat ini mengandung kesenian uslub bahasa Al-qur'an itu sendiri. Jika dilihat pada perkataan iyyaka ( إياك ), di mana ia sudah ditakdim dihadapan ayat di mana dhamir ini membawa maksud pengkhususan terhadap ibadah dan pertolongan kepada Allah. Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa bagaimana kita sebagai seorang hamba harus beribadah dan menyembah hanya kepada Allah dan hanya kepada Allah jugalah kita memohon pertolongan, tidak kepada yang lain. Kesesuaian antara ( نعبد ) dan ( نستعين ) menunjukkan kepada kita bahwa ibadah adalah satu perantaraan dan penghubung kita sebagai hamba dengan Allah untuk memohon pertolongan. Kalau dilihat dari konteks bahasa, asal usul sebenarnya ayat ini adalah ( نعبد إياك ونستعين إياك ).Apabila dhamir إياك ini ditakdimkan di depan, secara tidak langsung membawa maksud pengkhususan bahwa hanya Allah saja. Kesesuaian dari uslub bahasa ini juga mencerminkan kepada kita sifat ubudiyyah seorang hamba bahwa hanya menyembah Allah saja dan tidak akan menyembah selain Allah. Itu merupakan asal usul tauhid uluhiyyah seperti mana yang telah diutuskan oleh para rasul yg terdahulu.


اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”

Dalam ayat ini terkandung persoalan hidayah yang memberikan berbagai maksud :
1)      Tetapkan kami di atas jalan-jalan yang lurus dan benar sehingga kami tidak berpaling dari jalan yang lurus karena manusia itu sentiasa berubah-ubah. Mungkin pada hari ini manusia itu berada di dalam hidayah dan petunjuk dan kemungkinan manusia pada esok harinya berada di dalam kezaliman.
2)      Peliharalah hidayah kami. Hidayah itu tinggi darajatnya dan mereka yang diberikan hidayah itu tergolong dalam tingkatan-tingkatan yang tinggi darajatnya. Ada dari kalangan mereka yang sampai darajat hidayah yang tinggi dan ada dari kalangan mereka yang tidak sampai ke derajat tersebut. Allah swt memberikan jalan yang lurus itu melalui dua jalan yaitu jalan di dunia dan jalan di akhirat. Perjalanan kamu di jalan ukhrawi yaitu jalan titian sirat yg terbentang di antara neraka dan manusia akan melaluinya mengikut amalan mereka semasa di dunia dahulu. Manakala jalan di dunia pula ialah jalan dengan ketaatan kepada Allah swt dengan melakukan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah.
3)      Jalan yang lurus itu di mana seorang hamba itu akan melakukan apa yang dipwrintahkan pada setiap waktu berdasarkan kepada ilmu dan amalan yang ada padanya dan dalam masa yang sama juga seorang hamba itu tidak akan melakukan larangan Allah dengan menjadikan Allah sentiasa berada di hatinya bahwa Allah mengetahui segala apa yang dilakukan dan kehendak seorang hamba itu untuk melakukan apa yg diperintah dan dilarang.
Dan lawan bagi hidayah di dalam ayat ini ialah :
1)      Kejahilan ( الجهل )
Manusia itu kadang-kadang di dalam dirinya ada rasa keinginan untuk berbuat kebaikan akan tetapi jahil dan tidak mengetahui jalan atau cara yang betul yang dibenarkan oleh syariat untuk mencapai perbuatan baik tersebut. Maka manusia itu menggunakan cara yang bid’ah dari segi syariat dan juhud melaksanakannya tanpa berfikir panjang dan menyangka bahwa amalan kebaikan yang dilakukan dengan cara yang tidak betul itu adalah baik disebabkan oleh kurangnya ilmu dalam diri.
2)      Nafsu ( الهوى )
Kadang-kadang ada dari kalangan manusia itu sendiri mereka dari kalangan orang yang alim  berilmu pengetahuan tetapi tidak ada dalam dirinya keazaman dan kesungguhan yang menjadikannya terdorong untuk ke arah kebaikan, hawa nafsu itu menguasai dirinya. Lalu dia meninggalkan kewajipan atau berkecimpung dalam perkara haram dengan sengaja sedangkan dia seorang yg berilmu dan tahu tentang halal dan haram dan mengukurkan dirinya sebagai seorang yang lemah imannya dan nafsu syahwat menguasainya dan leka dalam kealpaan dunia.

Kalau diperhatikan Allah menggunakan perkataan ( اهدنا ) dalam sighah atau bentuk Fi’il Amar. Sebenarnya lafaz Fi’il Amar di sini bukanlah bermaksud satu perintah tetapi ia membawa maksud yang lain. Dari konteks ilmu balaghah, secara umumnya perkataan atau sesuatu jumlah dalam bahasa arab ini terbagi kepada dua yaitu berbentuk Insyai ( اسلوب الإنشائى ) dan Khabari ( اسلوب الخبري ). Di dalam konteks ayat yang berbentuk Uslub Insyai ini terdiri dari berbagai pecahan tersendiri. Dintaranya adalah sighah yang berbentuk amar ( صيغة الأمر ). Seperti yg terkandung di dalam ayat di atas, lafaz Fi’il Amar yang digunakan sebenarnya membawa maksud doa yaitu satu proses permintaan dari bawah kepada yang lebih atas, yang dimaksudkan permintaan dari bawah ke atas di sini kita sebagai seorang hamba meminta dan berdoa kepada yang lebih Maha Kuasa yaitu Allah swt.


صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
“Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka,bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat”.

Ayat ini disebutkan untuk menjelaskan ayat sebelumnya yaitu dari jalan yang lurus. Mereka yang telah mendapat hidayah sebagaimana yang telah Allah anugerahkan kepada mereka dari kalangan nabi-nabi, para syuhada, golongan yang soleh dan yang benar. Ayat ini secara tersiratnya adalah Allah mengajarkan manusia supaya mencari jalan “ orang-orang yg Allah telah berikan kenikmatan ” dan menjauhi jalan “ orang-orang yg dimurkai Allah dan orang-orang yg sesat ”.

Ayat ini juga menjeleskan tiga jalan yang bisa kita lalui :
1)        Jalan yang lurus ( الصراط المستقيم )
Jalan-jalan yang terkandung di dalamnya segala kebenaran dan amal kebaikan.
2)        Jalan yang dimurkai ( المغضوب عليهم )
Mereka orang-orang yahudi, nasrani dan selainnya. Mereka semua mengetahui semua kebenaran yang terkandung di dalam Al-quran dan tidak beramal dengannya
3)        Jalan yang sesat ( الضالين )
Mereka yang beramal tetapi dengan kejahilan mereka sendiri mereka beramal dengan menggunakan cara yang sesat dan tidak benar


DAFTAR PUSTAKA


l  Qulyubi, Syihabbuddin. 2011. Bahan kuliah uslub” al-fashlu ats-tsani : at-tahlili al-uslubi”
l  Qulyubi, Syihabbuddin. 2011. Bahan kuliah uslub”pengertian al-uslub”
l                        . 2004. juz 'amma arab-latin-terjemah. Indonesia: depot buku al-amin.
l  Qulyubi, Syihabbuddin. 2011. Bahan kuliah uslub “leksikal”
l  Aqiel, Bahauddin Abdullah ibnu. 1997. Syarah ibnu aqil ‘ala al-fiyyah ibnu malik. Yogyakarta: Badr el-ilm.
l  Al-hasyimi, A s-sayyid Ahmad. 2009. Al-qawaidul al-asasiyyah li al-lughati al-arabiyyah. Lebanon: Dar al-kutub al-ilmiyyah.
l  Herniti, Ening. 2005. Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
l  Chaer, Abdullah. 2007. Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.
l  Ibrahim, Muhammad Al-thoyyib. 2009. I’rab al-qur’an al-karim. Lebabnon: Dar an-nafaes.


[1]    Prof.Dr.H.Syihabbuddin Qulyubi, Bahan kuliah uslub “pengertian al--uslub”
[2]    Prof.Dr.H.Syihabbuddin Qulyubi, Bahan kuliah uslub” al-fashlu ats-tsani : at-tahlili al-uslubi”, hal 54
[3]    Abdul Chaer, linguistik umum, hal 206
[4]    Prof.Dr.H.Syihabbuddin Qulyubi, Bahan kuliah uslub “leksikal”

1 komentar:

  1. Alhamdulillah wa Syukurillah .... :-) :-) :-)

    Syukron atas Kajian Sintaksis yang dibahas.

    BalasHapus