MAKALAH
STILISTIKA SURAT AL-FATIHAH DARI ASPEK SINTAKSIS DAN LEKSIKAL
Dosen pengampu: Prof.Dr.H.Syihabuddin Qulyub
DISUSUN OLEH
FITHROTUL MUTHI’AH (10110119)
Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta
2011
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah,
karena dengan rahmat dan hidayah-ya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah
dengan judul “stilistika surat al-fatihah. Makalah ini di tulis dalam rangka
memenuhi tugas kuliah Imu Usub. Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada
baginda kita, nabi Muhammad saw yang telah membawa kita dari zaman jahiliyyah
menuju zaman keislaman ini.
Tiada gading yang tak retak, kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan, kekeliruan dan masih jauh dari kata sempurna dalam menyusun makalah
ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran atas penulisan
makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan tamnbahan ilmu pengetahuan kami
khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Yoyakarta,
Januari 2012
Hormat kami
Penyusun
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG MASALAH
Menurut Az-zarqoni stilistika atau dalam bahasa arab
di kenal dengan kata al-uslub adalah cara pengungkapan yang ditempuh penutur
kalimat dalam menyusun kalimat dan memilih kosa katanya.[1]
Surat al-fatihah termasuk surat pokok dari al-qur'an, sampai-sampai di sebut
dengan ummul kitab. Nah dalam setiap surat termasuk al-fatihah pasti mengandung
aspek sintaksis yakni cabang linguistik yang mengkaji hubungan kata dengan kata
lain dalam unit gramatik yang lebih besar. Dalam bahasa arab sintaksis lebih di
kenal dengan sebutan nahwu. Mempelajari kaidah-kaidah nahwu dalam al-fatihah di
rasa sangat penting, karena al-fatihah merupakan salah satu syarat sahnya
sholat yang menjadi kewajiban bagi semua umat islam. Ketika kaidah-kaidah
tersebut tidak sesuai maka dapat menimbulkan bacaan, makna maupun pemahaman
yang berbeda serta mempunyai pengaruh yang cukup besar. Begitu pula dengan
leksikalnya, pemilihan kata yang digunakan dalam surat al-fatihah juga
mempunyai makna serta tujuan tersendiri.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Rumusan masalah yang akan kami sajikan dalam makalah
ini berkaitan dengan:
1.
Bagaimana
lafadz dari surat al-fatihah beserta ulasannya?
2.
Apakah
yang di maksud dengan sintaksis ?
3.
Bagaimanakah
aplikasi sintaksis dalam surat al-fatihah?
4.
Apakah
yang di maksud dengan leksikal?
5.
Bagaimanakah
aplikasi leksikal dalam surat al-fatihah?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Penulisan makalah ini bertujuan agar kita mampu
memahami al-fatihah secara mendalam dari aspek sintaksisnya dengan adanya
berbagai macam penjelasan.
D.
DASAR
TEORI [2]
Pembahasan terhadap uslub al-qur'an tidak mungkin
bisa dilaksanakan tanpa berlandaskan pada ilmu nahwu dan cabang-cabangnya yakni
: fonologi, analisis fonologi, shorof, frase(tarkib), kamus dengan bersandarkan
pada semantik.
Jenis-jenis yang paling dasar di mana pembahasan
uslub al-qur'an difokuskan padanya yang bertolak dari bentuk-bentuk nahwu yang
merupakan landasan sebuah uslub. Lebih sempurnanya lagi, pertama dengan jalan
menganalisis unsur-unsur nahwu pada ungkapan-ungkapan yang dipilih. Kedua,
menjelaskannya dengan menggambarkannya untuk menunjukan maksud pengarang atau
dengan makna yang lebih dalam dari apa yang tertulis.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Surat
al-fatihah
١_ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ
الرَّحِيمِ
٢_ الْحَمْدُ للّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ
٣_ الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
٤_ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
٥_ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
٦_ اهدِنَا
الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
٧_صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ
عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
- Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
- Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
- Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
- Yang menguasai Hari Pembalasan.
- Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
- Tunjukilah kami jalan yang lurus,
- (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Surah Al-Fatihah ini dikategorikan sebagai Surah
Makkiyyah yaitu yg diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Nabi saw
menamakan surat ini sebagai (فاتحة الكتاب) karena ia adalah
merupakan surah yang mula-mula sekali dibaca dan sebagai permulaan dalam Al-Quran. Selain itu, surah ini juga
dinamakan (أم القرأن) karena ia merupakan induk bagi semua isi yang
terkandung di dalam Al-Quran dan menjadi intisari kepada isi Al-Quran. Nama
lain bagi surah ini adalah(السبع المثاني). Dinamakan sedemikian karena ia mengandungi
tujuh ayat dan sentiasa di baca berulang kali ketika di dalam shalat. Surat
fatihah juga mengandung 5 asma'ul husna (nama-nama Allah yang indah).
2.
Sintaksis
a.
Definisi
sintaksis
Sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara
tradisional disebut tata bahasa atau gramatika. Jadi sintaksis merupakan cabang
linguistik yang mengkaji hubungan kata dengan kata lain dalam unit gramatik
yang lebih besar. Secara garis besar sintaksis membahas tentang kata, frase,
klausa, kalimat dan wacana.[3]
b.
Sintaksis
dalam surat fatihah
Gramatika
(nahwu) dalam surat al-fatihah :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
l Bi, merupakah huruf jar, mabni, berfaidah lilisti’anah.
l Ismi, majrur karena didahului oleh bi yang merupakan huruf
jar, alamat jarnya menggunakan kasroh karena lafadz ismi adalah isim
mufrod(tunggal). Lafadz ini termasuk lafadz yang ma'rifat, penyebab
kema'rifatannya karena dia mudhof pada isim alam yakni lafadz Allah. Lafadz
Ismi sebagai mudhaf.
l Allahi, majrur karena mudhof ilaihi kepada kata ismi, i'rab
dari mudhof ilaih selalu jar, alamat jarnya menggunakan kasroh karena lafadz
allahi adalah isim mufrod mungshorif. Lafadz ini termasuk lafadz yang ma'rifat
karena termasuk isim alam.
l Ar-Rahmaani, i'rabnya jar karena dia sifat (na'at) dari kata
Allahi, termasuk na'at haqiqi yakni na'at yang merofa'kan isim dhomir mustatir
yang kembali kepada man'utnya. Alamat jarnya dengan kasrah karena termasuk isim
mufrod mungshorif. Lafadz ini termasuk lafadz yang ma'rifat karena kemasukan
alif lam ta’rif.
l Ar-Rahiimi, i'rabnya jar karena dia sifat (na'at) dari kata
Allahi, termasuk na'at haqiqi. Alamat jarnya dengan kasrah karena termasuk isim
mufrod mungshorif. Lafadz ini termasuk lafadz yang ma'rifat karena kemasukan
alif lam ta’rif.
l Jumlah al-basmalah termasuk jumlah ibtida’iyyah atau
isti’nafiyyah.
الْحَمْدُ
للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
l Alhamdu, marfu’ karena menjadi mubtada', alamat rofa'nya
menggunakan dhomah karena termasuk isim mufrod. Lafadz alhamdu termasuk lafadz
yang ma'rifat karena kemasukan alif lam.
l Lillahi, bentuk jar-majrur, terdiri dari kata li dan allahi,
menempati posisi marfu’ karena sebagai khobar dari mubtada' alhamdu, termasuk
khobar syibhu jumlah berupa jar majrur.
l Rabbi, majrur karena dia menjadi badal dari kata Allahi,
alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrod, termasuk badal
muthobik (kul min kul) yakni badal yang menyamai mubdal minhunya dalam artinya.
Lafadz rabbi juga bisa menjadi na'at haqiqi dari kata Allahi.
l Al-’Aalamiina, majrur karena dia mudhof ilaihi kepada kata
rabbi, alamat jarnya menggunakan huruf ya karena termasuk isim yang serupa
dengan jama' mudzakar salim.
l Jumlah al-hamdu merupakan jumlah ibtida’iyyah.
الرَّحْمنِ
الرَّحِيمِ
l Ar-Rahmaani, majrur karena dia sifat (na'at) haqiqi dari
kata Allahi, alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad
mungshorif.
l Ar-Rahiimi, marjur karena dia sifat (na'at) haqiqi dari kata
Allahi, alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
مَالِكِ يَوْمِ
الدِّينِ
l Maaliki, majrur karena dia badal dari kata Allah pada ayat
alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiina, alamat jarnya menggunakan kasrah karena
termasuk isim mufrad mungshorif. Lafadz ini tidak bias menjadi sifat karena
termasuk lafadz nakirah yakni berupa isim fail, ketika berzaman hal atau
istiqbal maka bukan ma’rifat sebab idhafah, karena tidak ada nakirah sifat lil
ma’rifah.
l Yaumi, majrur karena dia mudhof ilaihi kepada kata Maaliki,
alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
l Ad-Dini, majrur karena dia mudhof ilaihi kepada kata Yaumi,
alamat jarnya menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
l Iyyaka, menempati posisi manshub karena dia maf’ul, bentuk
iyyaka merupakan isim dhamir nashab munfashil, termasuk isim mabni. Asal posisi
maf’ul adalah setelah fiil dan fa’ilnya, disini ditempatkan diawal untuk
pengkhususan sehingga maknanya adalah hanya kepada-Mulah
l Na’budu, merupakan fiil mudhari yang didalamnya terdapat
fa’ilnya yakni nahnu, fiil mudhari marfu' karena tidak kemasukan amil nashab
dan amil jazam.
l wa, huruf ‘athof berfaedah mutlaq al-jam’i.
l iyyaka, sudah dijelaskan sebelumnya
l Nasta’iinu, merupakan fiil mudhari yang didalamnya terdapat
fa’ilnya yakni nahnu, fiil mudhari marfu' karena tidak kemasukan amil nashab
dan amil jazam, fiil ini mengikuti wazan istaf'ala-yastaf'ilu yang berfaidah
isti’anah.
اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
l Ihdi, fiil amr bermakna do’a yang didalamnya terdapat fa’il
mustatirnya yakni anta.
l naa, isim dhomir muttasil mabni, menempati posisi manshub
karena dia sebagai maf’ul bih pertama ihdi.
l Ash-Shiraatha, manshub karena dia sebagai maf’ul kedua ihdi,
alamat nashabnya menggunakan fathah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
Lafadz ini juga bias nashab sebab naza’ al-khafidz.
l Al-Mustaqiima, manshub karena dia sifat (na'at) haqiqi dari
kata Ash-Shiraatha.
صِرَاطَ
الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
l Shiraatha, manshub karena dia badal muthobik (kul min kul) dari kata shiratal
mustaqiima
l Alladziina, menempati posisi majrur karena dia mudhof ilaihi kepada shiraatha,
alladzina merupakan isim maushul, termasuk isim yang mabni
l An’amta,
terdiri dari dua kata yakni an'ama yang merupakan fi’il madhi dan isim dhomir
ta yang kembali pada Allah yang menjadi failnya, termasuk isim dhamir muttasil
mabni fathah mahal rofa sebab jadi fail.
l ‘alaihim,
bentuk jar-majrur dari huruf jar ala dan isim dhomir hum, berhubungan dengan
fi’il madhi an’amta
l ghairi,
majrur karena dia badal atau sifat dari alladziina, jatuh setelah kalam naqis,
ghairi termasuk salah satu perangkat istisna yang mana mustasna dengan lafadz
ghairu itu i'rabnya jar.
l al-maghdlubi,
majrur karena dia mudhof ilaihi (mustasna dari ghairu), alamat jarnya
menggunakan kasrah karena termasuk isim mufrad mungshorif.
l ‘alaihim,
bentuk jar-majrur dari huruf jar ala dan isim dhamir hum menempati posisi
marfu’ karena dia sebagai naibul fa’il dari isim maf’ul al-maghdluubi.
l wa, huruf
‘ataf berfaidah mutlaq al-jam’i.
l la, huruf
nafi.
l adl-dlooliina,
majrur karena dia athof kepada al-maghdlubi, alamat jarnya menggunakan ya
karena isim jama mudzakar salim.
3.
Leksikal
a.
Definisi
leksikal
Leksikal(al-mustawa al-mu'jami) adalah pemaknaan yang
sesuai dengan makna yang ada dalam kamus. Seperti contoh ro'sun itu makana
leksikal atau makna dalam kamusnya adalah bagian tubuh atau anggota badan yang
paling atas atau paling depan.[4]
b.
Leksikal
dalam surat al-fatihah[5]
Dalam Surah Al-Fatihah ini sebenarnya Allah s.w.t.
menyebutkan kepada kita 5 Asma al-Husna ( nama-nama Allah yg indah ). Dari 99
Asma al-Husna, 5 daripadanya Allah s.w.t. memilih dan menyebutnya di dalam
surah ini yaitu :
1)
Allah
( الله )
2)
Ar-Rabb
( الرب )
3)
Ar-Rahman
( الرحمن )
4)
Ar-Rahim
( الرحيم )
5)
Al-Malik
( المالك )
Pembahasannya
sebagai berikut:
1) Allah ( الله )
Merupakan nama Allah Azza Wa Jalla Yang Maha Agung dan
tiada sesuatu pun yg boleh menyekutukanNya. Di antara maksud nama Allah ini
ialah sesungguhnya hati-hati seseorang yang sedang beribadah rindu kepada
Allah, rindu untuk bertemu denganNya, melihatNya dan menjadi tenang bila
menyebutNya yaitu berzikir mengingat Allah.
Selain itu nama Allah juga bermaksud bahwa sesungguhnya
Dia ( Allah ) satu-satunya tuhan
yg layak untuk di sembah dan berhak untuk beribadah kepadaNya dan oleh karena
itu jugalah nama ini digunakan dalam ungkapan dua kalimah syahadah di mana
seorang mukmin itu akan berkata ( أشهد أن لا اله إلا الله ) dan tidak berkata
seperti ini
( أشهد أن لا اله إلا الرحمن ).
2) Ar-Rabb ( الرب )
Yaitu Dialah ( Allah ) tuhan sekalian alam. Semua yg
diciptakan Allah terdiri dari berbagai jenis dan bentuk seperti alam
manusia,alam hewan,alam tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Allah swt adalah pencipta semua yang ada di langit dan
di bumi ini.
3) Ar-Rahman & Ar-Rahim ( الرحمن
الرحيم )
Merupakan nama Allah yang tidak diberikan kepada siapa
pun melainkan hanya kepada Allah saja, bahwasanya Allah swt mempunyai sifat
Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sifat Ar-Rahman Allah ini adalah rahmat kasih
sayang untuk semua makhlukNya baik di dunia maupun di akhirat sedangkan
Ar-Rahim adalah nikmat rahmat kasih sayang yang hanya khusus untuk orang-orang
yang beriman saja besok di akhirat. Kita membaca surah Al-Fatihah ini
berulang-ulang kali baik dalam shalat atau selainnya, kita akan menyebut ( بسم الله الرحمن الرحيم ) dan tidak menyebut
( بسم الله العزيز الحكيم )
ataupun asma'ul husna yang lainnya. Hal ini juga menunjukkan kata-kata Allah
swt di dalam satu hadis Qudsi yaitu “ Sesungguhnya rahmat kasih sayang-Ku
mendahului kemurkaan-Ku ” dan nabi saw senantiasa kan hal ini kepada para
sahabat dengan senantiasa berharap bertambah keyakinan terhadap rahmat kasih
sayang Allah yang besar .
Ketiga asma al-husna ini jika diperhatikan secara
terperinci sebenarnya ia sudah merangkumi aspek-aspek akidah keimanan kita
kepada Allah swt. Pertama nama Allah ( الله )
mengandung sifat Uluhiyyah dan kedua Ar-Rabb ( الرب )
mengandung sifat Rububiyyah dan yg terakhir Ar-Rahman & Ar-Rahim mengandung
sifat Asma wa sifat bagi Allah.
4) Al-Malik ( المالك )
Seperti yg terkandung di dalam surah Al-Fatihah yaitu
( ملك يوم الدين ) yang artinya “yang
menguasai hari pembalasan” di mana pada hari itu di tangan-tangan manusia
terdapat segala amalan-amalan mereka dan pada hari itu juga terdengar pujian
kepada Allah dan mengagungkan kebesaran Allah. Pada hari itu jugalah terdapat
peringatan kepada umat Islam dengan hari pembalasan dan hari penghitungan (
Hisab ).
Selain asmaul husna, kata dalam ayat QS Al-Fatihah akan
kami bahas sebagai berikut:
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala
puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam”
Alhamdu ( الحمد )
adalah pujian karena perbuatan yg baik dan mulia.
Pujian ini adalah pujian bagi Allah swt dengan sifat keagungan dan
kesempurnaanNya. Segala pujian serta sifat-sifat yang tinggi dan kesempurnaan
hanyalah milik Allah swt saja dan tidak ada yang berhak menerima pujian yang
sempurna melainkan Allah saja. Jika kita mengkaji dari konteks bahasa sendiri
kenapa digunakan alhamdu dalam ayat ini dan tidak digunakan ( الشكر ) dan apakah perbedaan antara ( الحمد ) ,( الشكر ) dan ( المدح ) ?Kenapa Allah tidak memulai ayat ini
dengan ( الشكر لله رب
العلمين ) atau ( المدح لله رب العلمين )?
Sebenarnya ketiga perkataan bahasa arab ini mempunyai
perbedaan makna dan maksud tersendiri.
Dari segi makna luar sama tetapi hakikatnya terdapat perbedaan antara ketiga
perkataan ini :
1)
الحمد
Alhamdu dari segi bahasa bermaksud pujian terhadap
sesuatu perbuatan, sifat atau tindakan yang dilakukan dengan kehendak dan
keinginannya sendiri. Lafadz ini menggunakan bentuk isim karena isim itu
bermakna lissubut (tidak ada perubahan) ketika menggunakan bentuk fiil itu bisa
berubah-ubah. Pujian di sini juga hanya tertuju bagi Allah.
2)
المدح
Almadhu juga adalah bermaksud pujian akan tetapi ia
adalah pujian yang berbentuk umum atas sesuatu perbuatan atau tingkah laku yang
dilakukan. Perbedaan antara kedua perkataan ini ialah الحمد
adalah khusus dan المدح adalah
umum.
3)
الشكر
As-syukru
mempunyai maksud yang lebih khusus lagi dari الحمد dan
المدح karena perkataan
as-syukru ini sebenarnya lebih kepada pujian terhadap suatu nikmat tertentu
saja yakni nikmat khusus. Ia terbatas kepada suatu kenikmatan yang melimpah
dari pemberinya.
Sebenarnya
alhamdu disini mengandungi maksud ( الشكر
والإعتراف ) yaitu pujian dan pengi'tirafan yang cukup indah yang dikhususkan
hanya kepada Allah saja di mana ketika dilihat bagaimana surah Al-Fatihah ini
diawali dengan suatu pujian. Pengi'tirafan yang dimaksudkan di sini ialah
keagungan dan kebesaran Allah swt karena itu adalah satu pengakuan dari
hamba-hamba-Nya sendiri dengan segala keluputan, kekurangan diri mereka dan
merasa perlu kepada Allah swt. Dan hamba-hamba-Nya mengi'tiraf Allah dengan
mengagungi segala sifat kesempurnaan, kemuliaan dan ihsan kebaikan Allah swt .
Perkataan “ Rabbil A’lamin ” yang bermaksud
Tuhan sekalian alam bermakna bahwa sifat Allah merupakan jawaban dari persoalan
kenapa Allah saja yang berhak dan layak untuk dipuji. Dan perkataan “ Rabb ” di
sini bermakna pemilik atau yang memiliki sesuatu dan perkataan ini tidak boleh
digunakan pada makhluk-Nya. Jika digunakan pada manusia, kata ini akan
disandarkan kepada sesuatu atau lebih di istilahkan sebagai ( الإضافة )sebagai
contoh : رب البيت yang bermaksud tuan
rumah atau pemilik rumah.Contoh lain lagi : ربة
البيت yang bermaksud suri rumah.
“ Al-a’lamin ” pada
ayat ini meggunakan bentuk jamak muzakkar salim untuk menunjukkan sesuatu yang
berakal. Lafadz ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah adalah tuhan sekalian
alam seperti alam manusia,malaikat,jin,tumbuh-tumbuhan,hewan dan lain-lain
sebagainya.
إِيَّاكَ
نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkau kami
sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”.
Ayat ini mengandung kesenian uslub bahasa Al-qur'an itu
sendiri. Jika dilihat pada perkataan iyyaka ( إياك ),
di mana ia sudah ditakdim dihadapan ayat di mana dhamir ini membawa maksud
pengkhususan terhadap ibadah dan pertolongan kepada Allah. Ayat ini menunjukkan
kepada kita bahwa bagaimana kita sebagai seorang hamba harus beribadah dan
menyembah hanya kepada Allah dan hanya kepada Allah jugalah kita memohon
pertolongan, tidak kepada yang lain. Kesesuaian antara ( نعبد ) dan ( نستعين
) menunjukkan kepada kita bahwa ibadah adalah satu
perantaraan dan penghubung kita sebagai hamba dengan Allah untuk memohon
pertolongan. Kalau dilihat dari konteks bahasa, asal usul sebenarnya ayat ini
adalah ( نعبد إياك ونستعين إياك ).Apabila
dhamir إياك ini ditakdimkan di
depan, secara tidak langsung membawa maksud pengkhususan bahwa hanya Allah
saja. Kesesuaian dari uslub bahasa ini juga mencerminkan kepada kita sifat
ubudiyyah seorang hamba bahwa hanya menyembah Allah saja dan tidak akan
menyembah selain Allah. Itu merupakan asal usul tauhid uluhiyyah seperti mana
yang telah diutuskan oleh para rasul yg terdahulu.
اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
“Tunjukkanlah kami jalan
yang lurus”
Dalam ayat ini terkandung persoalan hidayah yang
memberikan berbagai maksud :
1)
Tetapkan
kami di atas jalan-jalan yang lurus dan benar sehingga kami tidak berpaling
dari jalan yang lurus karena manusia itu sentiasa berubah-ubah. Mungkin pada
hari ini manusia itu berada di dalam hidayah dan petunjuk dan kemungkinan
manusia pada esok harinya berada di dalam kezaliman.
2)
Peliharalah
hidayah kami. Hidayah itu tinggi darajatnya dan mereka yang diberikan hidayah
itu tergolong dalam tingkatan-tingkatan yang tinggi darajatnya. Ada dari
kalangan mereka yang sampai darajat hidayah yang tinggi dan ada dari kalangan
mereka yang tidak sampai ke derajat tersebut. Allah swt memberikan jalan yang
lurus itu melalui dua jalan yaitu jalan di dunia dan jalan di akhirat.
Perjalanan kamu di jalan ukhrawi yaitu jalan titian sirat yg terbentang di
antara neraka dan manusia akan melaluinya mengikut amalan mereka semasa di
dunia dahulu. Manakala jalan di dunia pula ialah jalan dengan ketaatan kepada
Allah swt dengan melakukan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang
oleh Allah.
3)
Jalan yang
lurus itu di mana seorang hamba itu akan melakukan apa yang dipwrintahkan pada
setiap waktu berdasarkan kepada ilmu dan amalan yang ada padanya dan dalam masa
yang sama juga seorang hamba itu tidak akan melakukan larangan Allah dengan
menjadikan Allah sentiasa berada di hatinya bahwa Allah mengetahui segala apa
yang dilakukan dan kehendak seorang hamba itu untuk melakukan apa yg diperintah
dan dilarang.
Dan
lawan bagi hidayah di dalam ayat ini ialah :
1)
Kejahilan
( الجهل )
Manusia itu kadang-kadang di dalam dirinya ada rasa
keinginan untuk berbuat kebaikan akan tetapi jahil dan tidak mengetahui jalan
atau cara yang betul yang dibenarkan oleh syariat untuk mencapai perbuatan baik
tersebut. Maka manusia itu menggunakan cara yang bid’ah dari segi syariat dan
juhud melaksanakannya tanpa berfikir panjang dan menyangka bahwa amalan
kebaikan yang dilakukan dengan cara yang tidak betul itu adalah baik disebabkan
oleh kurangnya ilmu dalam diri.
2)
Nafsu
( الهوى )
Kadang-kadang ada dari kalangan manusia itu sendiri mereka
dari kalangan orang yang alim berilmu
pengetahuan tetapi tidak ada dalam dirinya keazaman dan kesungguhan yang
menjadikannya terdorong untuk ke arah kebaikan, hawa nafsu itu menguasai
dirinya. Lalu dia meninggalkan kewajipan atau berkecimpung dalam perkara haram
dengan sengaja sedangkan dia seorang yg berilmu dan tahu tentang halal dan
haram dan mengukurkan dirinya sebagai seorang yang lemah imannya dan nafsu
syahwat menguasainya dan leka dalam kealpaan dunia.
Kalau diperhatikan Allah menggunakan perkataan ( اهدنا ) dalam sighah atau bentuk Fi’il
Amar. Sebenarnya lafaz Fi’il Amar di sini bukanlah bermaksud satu
perintah tetapi ia membawa maksud yang lain. Dari konteks ilmu balaghah, secara
umumnya perkataan atau sesuatu jumlah dalam bahasa arab ini terbagi kepada dua
yaitu berbentuk Insyai ( اسلوب
الإنشائى )
dan Khabari ( اسلوب الخبري ).
Di dalam konteks ayat yang berbentuk Uslub Insyai ini terdiri dari berbagai
pecahan tersendiri. Dintaranya adalah sighah yang berbentuk amar ( صيغة الأمر ). Seperti yg terkandung di dalam
ayat di atas, lafaz Fi’il Amar yang digunakan sebenarnya membawa maksud
doa yaitu satu proses permintaan dari bawah kepada yang lebih atas, yang
dimaksudkan permintaan dari bawah ke atas di sini kita sebagai seorang hamba
meminta dan berdoa kepada yang lebih Maha Kuasa yaitu Allah swt.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ
عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
“Jalan orang-orang yang telah Engkau
anugerahkan nikmat kepada mereka,bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan
bukan jalan orang-orang yang sesat”.
Ayat ini disebutkan untuk menjelaskan ayat sebelumnya
yaitu dari jalan yang lurus. Mereka yang telah mendapat hidayah sebagaimana
yang telah Allah anugerahkan kepada mereka dari kalangan nabi-nabi, para
syuhada, golongan yang soleh dan yang benar. Ayat ini secara tersiratnya adalah
Allah mengajarkan manusia supaya mencari jalan “ orang-orang yg Allah telah
berikan kenikmatan ” dan menjauhi jalan “ orang-orang yg dimurkai Allah
dan orang-orang yg sesat ”.
Ayat ini juga menjeleskan tiga jalan yang bisa kita lalui :
1)
Jalan
yang lurus ( الصراط المستقيم )
Jalan-jalan yang terkandung di dalamnya segala kebenaran dan
amal kebaikan.
2)
Jalan
yang dimurkai ( المغضوب عليهم )
Mereka orang-orang yahudi, nasrani dan selainnya. Mereka
semua mengetahui semua kebenaran yang terkandung di dalam Al-quran dan tidak
beramal dengannya
3)
Jalan
yang sesat ( الضالين )
Mereka yang beramal tetapi dengan kejahilan mereka sendiri
mereka beramal dengan menggunakan cara yang sesat dan tidak benar
DAFTAR
PUSTAKA
l Qulyubi, Syihabbuddin.
2011. Bahan kuliah uslub” al-fashlu ats-tsani : at-tahlili al-uslubi”
l Qulyubi, Syihabbuddin.
2011. Bahan kuliah uslub”pengertian al-uslub”
l . 2004. juz 'amma arab-latin-terjemah.
Indonesia: depot buku al-amin.
l Qulyubi, Syihabbuddin.
2011. Bahan kuliah uslub “leksikal”
l Aqiel, Bahauddin
Abdullah ibnu. 1997. Syarah ibnu aqil
‘ala al-fiyyah ibnu malik. Yogyakarta: Badr el-ilm.
l Al-hasyimi, A s-sayyid
Ahmad. 2009. Al-qawaidul al-asasiyyah li
al-lughati al-arabiyyah. Lebanon: Dar al-kutub al-ilmiyyah.
l Herniti, Ening. 2005. Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Pokja
Akademik UIN Sunan Kalijaga.
l Chaer, Abdullah. 2007.
Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.
l Ibrahim, Muhammad
Al-thoyyib. 2009. I’rab al-qur’an al-karim. Lebabnon: Dar an-nafaes.
Alhamdulillah wa Syukurillah .... :-) :-) :-)
BalasHapusSyukron atas Kajian Sintaksis yang dibahas.